Flaming Soccer ball
Subscribe:

Labels

Cerpen


EUPHORBIA PEMBAWA BERKAH
(Peringkat ke-2 dalam Lomba Cerpen Islami se-Jawa Barat SES Unpad 2012 )
oleh : Fahmi Syakir

Sejenak waktu berhenti, langkah-langkah itu terdengar berderap-derap di atas lantai. Detik waktu terasa beku, gerak jarum jam terasa mengeras. Kulihat, sebuah pesawat terbang kertas buatan temanku, Idrus bin Ikal, membisu. Tak lama kemudian, muncullah sesosok perempuan berjilbab panjang masuk ke kelasku. Bu Azizah, wali kelasku yang juga guru Bahasa Indonesia. Beliau duduk di kursinya, persis di depan mejaku. Sontak, semua kembali berjalan seperti semula. Jarum jam kembali berputar, denyut nadi kembali berdetak, dan pesawat terbang kertas itu, jatuh menimpaku.
            “Seminggu lagi, pembagian raport untuk semester dua. Tapi, pelajaran Bahasa Indonesia masih menyisakan satu tugas lagi. Jadi, ibu akan memberi tugas kepada kalian semua” ujar Bu Azizah kepada kami. Aku gugup, harap-harap cemas.
“Kali ini, ibu tugaskan kalian untuk membuat sebuah cerita pendek. Temanya terserah kalian, yang paling penting bisa menyentuh, dan bisa menjadi inspirasi bagi yang membacanya. Paling lambat, dikumpulkan hari Senin!” ujar Bu Azizah penuh semangat. Aku tertunduk lesu.
“Namun, satu pesan penting yang perlu ibu sampaikan, terutama untuk Fatih, ya Muhammad Fatih Jundullah. Ingat, ini tugas terakhir Bahasa Indonesia. Perkembangan nilaimu sangat tidak memuaskan. Untuk tugas kali ini, berusahalah semaksimal mungkin! Mengerti, Fatih?” ujar Bu Azizah, kali ini beliau lebih tegas. Aku hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum kecut. Aku semakin tertunduk lesu.
***
        Aku pulang dengan langkah gontai, lemas dan lesu. Memikirkan tugas Bahasa Indonesia dari  Bu Azizah. Sore itu sangat terik, membuat kepalaku semakin pening.
Di ruang tengah, ibu sedang menghitung lembaran rupiahnya hari ini, dari hasil menjual donat-donat di Alun-alun kota. Semenjak kepergian ayah dua tahun lalu, ibu kini harus banting tulang cari uang. Keringat bercucuran dari setiap sudut wajahnya. Ku cium tangan kanannya, basah oleh tetes-tetes keringat. Kembali kuingat apa yang telah ibu lakukan selama ini, hingga setidaknya aku bisa bersekolah. Mulai subuh, ibu pergi menjajakan dagangannya di pasar. Sore hari, ibu baru pulang dari pasar. Aku enggan mengutarakan kesulitanku. Aku tak mau beban ibu bertambah, walau sedikitpun.
Matahari kian tenggelam di ufuk barat, sedangkan rembulan perlahan menyembul. Aku ambil air wudhu, lalu shalat. Gerakan demi gerakan, aku mencoba untuk terus khusyuk, termasuk untuk tidak memikirkan tugas itu sama sekali. Hanya fokus terhadap bacaan shalat, lalu mencoba meresapi arti dan maknanya. Di sujud terakhir, aku memohon kepada Allah, agar memudahkan pekerjaanku yang besar ini.
***
            Sabtu pagi, bagi orang-orang berduit adalah waktunya beristirahat di rumah, atau melakukan jogging. Sekedar untuk melepaskan penat dari berbagai macam kesulitan hidup. Tapi tidak bagiku, pun bagi ibuku. Bagi Ibu, Sabtu adalah hari besar, sebagian besar pendapatannya ia dapatkan di malam ini. Donat Ibuku selalu laris terjual, oleh dua sejoli yang sedang malam-mingguan di Alun-alun kota. Sedangkan bagiku, hari ini adalah hari penentuan, apakah aku bisa menyelesaikan tugas dari Bu Azizah dengan baik, atau gagal sama sekali. Bagi sebagian besar orang, mengarang sebuah cerita adalah hal mudah, simpel, dan menyenangkan. Bagiku, tak ubahnya seperti sebuah ujian yang sangat berat.
         Dua jam, tiga jam telah berlalu. Aku masih belum bisa menemukan ilham itu. Ilham untuk memulai cerita pendekku. Aku keluar rumah, untuk mencari ilham-ilham itu. Kulihat, ibuku sedang menyiram berbagai tanaman favoritnya di halaman depan. Ibu memang selalu menyukai tanaman, apapun itu. Berapapun uang yang ibu punya, meskipun sangat sedikit, sebagiannya ia belikan tanaman. Baginya, merawat tanaman di sabtu pagi adalah hal yang paling esensial dalam hidupnya.
            “Bunga Eforbianya bagus sekali Bu Faizah…” ucap Bu Indah, salah satu tetangga kami, lewat di depan halaman rumah.
            “Iya Bu, Alhamdulillah”
            “Saya ingin sekali beli bunga eforbia, tapi enggak tahu di mana tempatnya..”
            “Oh ya udah, Bunga Eforbia ini buat ibu saja, daripada cari-cari ke tempat lain” ujar Ibu. Aku tersentak. Mengapa ibu memberikan bunga eforbia itu dengan cuma-cuma? Bukankah Ibu sangat menyukai tanaman?
            “Yang benar, bu? Alhamdulillah, terima kasih banyak bu. Saya gak tahu harus bilang apa lagi, terima kasih banyak bu” ucap Bu Indah berkaca-kaca, terharu, sekaligus bahagia. Ibu menjawabnya dengan sebuah senyuman tulus, indah sekali.
            “Loh, bu, kok bunganya dikasih begitu saja sih? Bukannya ibu suka dengan tanaman itu?” tanyaku.
            “Ya, hitung-hitung buat sedekah juga, Fatih. Lagian, Ibu Indah itu lebih memerlukan bunga itu daripada Ibu. Ibu kan masih punya banyak tanaman yang lain” ujar Ibu lembut, sambil mengusap-usap kepalaku.
            “Memang, ibu gak merasa rugi, kehilangan eforbia itu?”
            “Kenapa harus rugi? Ibu beli bunga itu di tukang bunga keliling. Lagipula, harganya juga hanya lima ribuan saja kok…” ucap Ibu sambil tertawa kecil. Faizah Nur Hasanah, Ibuku yang begitu luar biasa. Ia rela mengorbankan kepunyaannya, demi kebahagiaan orang lain. Mungkin inilah yang disebut sebagai kenikmatan bersedekah, karena dapat membahagiakan orang lain dengan barang yang paling kita sayangi, paling kita sukai.
***
            Ahad siang, aku semakin frustasi. Tinggal dua puluh empat jam lagi, tapi ceritaku belum jadi, bahkan satu kata pun. Aku putuskan untuk pergi mencari angin, mencari inspirasi. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar. Ibu membuka pintu, aku pun menghampir. Kami bedua tersentak. Sepupuku, Mbak Fina jauh-jauh datang dari Jakarta. Wajahnya yang teduh dan ramah, menyembul di jendela. Ibu mempersilakannya masuk, lalu Mbak Fina yang bekerja sebagai buruh pabrik itu duduk di ruang tamu. Cepat-cepat aku melangkah ke luar rumah.
            Terik mentari tak terlalu menusuk ubun-ubun, namun kepalaku masih tetap pusing, dikelilingi bayang-bayang wajah Bu Azizah, yang sedang menagih tugas kepadaku. Langkahku lemas, tak bernyawa. Ku tendang apa saja yang ada di sekitar. Kerikil yang aku tendang meloncat-loncat seperti kodok di atas aspal, lalu membentur betis seorang bocah dua belas tahun asal Ambon. Ku tatap mukanya, Idrus bin Ikal. Teman kelasku yang membuat pesawat terbang kertas, tempo hari. Ia mengerang kesakitan, sambil memegangi betisnya. Kulihat, titik-titik keringat menyembul di antara dahinya, wajahnya kusut seperti habis dikejar anjing.
            “Bung, gawat bung!” matanya merah, napasnya ngos-ngosan.
            “Kenapa, Rus?”
            “Nenek Bu Azizah meninggal di Solo, siang tadi!”
            “Hah?! Lantas, kenapa?”
            “Bu Azizah akan langsung berangkat ke Solo jam lima sore ini, Bung!”
            “Jadi?”
            “Tugas itu harus selesai hari ini Bung, karena Bu Azizah akan memeriksa tugas  kita di Solo!”
            Aku terdiam membisu, mulutku menganga besar-besar.
            Aku mengisyaratkannya untuk pergi ke Sekolah, menahan Bu Azizah agar tak pergi sebelum tugasku selesai.
            “Bagaimana nasib ceritaku, Bung?”
            “Jangan banyak bicara, kerjakan disana!”
            “Kapan, Bung?”
            “Sekarang juga, Ikaaaal!!!”
            “Si..si..siap…..Bung!”  Idrus terbirit-birit, berlari ke sekolah.
Mataku terasa meleleh, oleh air mata.. Kegagalan itu semakin mendekat, perlahan mencekat leherku. Aku kelu, tak berkat-kata. Tinggal seratus dua puluh menit terisisa, aku hanya bisa berlari, berlari, berlari!
***
            Sampai di halaman depan, aku menyeruak ke dalam rumah. Terdengar dari luar, sayup-sayup suara Mbak Fina, hendak pamit pulang ke Jakarta. Setelah Mbak Fina pulang, aku dan Ibu masuk ke rumah. Situasi ini membuatku stress, perutku keroncongan sekali. Aku segera menghampiri meja makan, ku buka tudung saji. Sekejap aku tertegun, kemudian mengucek-ngucek mata beberapa kali. Seekor ayam goreng, semangkuk penuh Soto, dan satu keranjang penuh buah-buahan, hadir di depanku!
“Dari mana ibu dapatkan uang untuk membeli makanan sebanyak ini?” lirihku dalam hati.
Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah Ibu, lalu ditangannya sebuah amplop kecil, putih kusam. Lalu amplop itu diserahkannya padaku.
            “Ini apa bu? Dan semua makanan di meja itu?”
            “Dari Mbak Fina, Fatih”
            Aku segera membuka amplop itu, keluarlah empat lembar uang, masing-masing pecahan seratus ribu rupiah. Kami saling berpandangan sejenak, berpikir. Sontak, kami berdua teringat sesuatu. Cepat-cepat raut muka kami berubah. Bahagia, tangis dan haru campur jadi satu.
            “Alhamdulillah, ya Allah. Allahu Akbar!” Kami berdua cepat-cepat bersujud, mengungkapkan rasa syukur kami. Ya, Allah telah membalas sedekah Ibu dengan sangat sempurna! Bunga Euphorbia milii seharga lima ribu rupiah, Allah balas dengan empat ratus ribu rupiah lebih! Allahu Akbar! Terdengar sayup-sayup di telingaku sebuah lantunan ayat.
            “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah, yang akan engkau dustakan?” (QS : Ar-Rahmaan)
            Itu dia! Ilham itu akhirnya datang juga. Bergegas segera aku ke kamar.
            “Allah telah menjawab do’aku, Ibu!” ujarku lantang pada Ibu. Cepat-cepat aku menuliskan semua kejadian ini, sebuah untaian kisah yang Allah takdirkan untukku. Terbayang olehku wajah teduh Bu Azizah, perlahan tersenyum kepadaku.
            Ibu pun tersenyum kepadaku.
 
_________________________
 
The Little Green Professors
(oleh : Fahmi Syakir)
Bel berdering.
Aku buru-buru melangkah ke halaman belakang sekolah, lalu duduk di sebuah bangku cokelat yang masih terlihat baru. Nyiur-nyiur kelapa yang teduh melindungiku, dari teriknya matahari siang ini. Tak sabar aku membuka kotak makan siangku, menerka-nerka apa yang Mama masak kali ini untukku. Dua lembar roti, isi keju. Itu saja, tak ada embel-embel lainnya.
“Huh…” lirihku pelan. Perlahan namun pasti, selera makanku turun drastis.
            Ku abaikan kotak makan berwarna kuning itu. Sejenak berpikir, aku kini mulai terjebak dengan rutinitas. Berangkat sekolah, istirahat, makan siang dengan dua lembar roti isi keju, duduk termenung, naik busway, pulang ke rumah, tidur. Hanya itu saja yang rutin kulakukan. Tak ada lagi, sungguh. Apa gunanya hidup ini? Lalu apa bedanya manusia dengan binatang, yang kerjaannya hanya tidur, kawin, dan mencari mangsa? Bahkan kini aku merasa lebih hina dari seekor kucing yang ada di bawah bangku ini, menunggu seorang murid tak sengaja menumpahkan makan siangnya.
Mataku tertuju ke ujung halaman belakang, di luar pagar sekolah. Beribu-ribu kendaraan lalu lalang tiada henti, tak perduli apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka mengejar waktu, saling mendahului satu sama lain, tak ingin menjadi yang terbelakang. Kudongakkan kepalaku ke arah timur laut. Dengan langkah tergopoh-gopoh, membawa sekantong karung besar yang kucel dan kotor, seorang bocah sembilan tahun berjalan di atas aspal hitam yang membara, tanpa alas kaki. Kakinya yang kusam dan tak terurus melangkah perlahan, mondar-mandir ke setiap tong sampah. Matanya merah, terkena iritasi polutan dari asap kendaraan bermotor. Otot-ototnya yang kerempeng bekerja ekstra keras, menyeret karung besar berisi sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Berbagai macam jenis plastik, botol-botol bekas minuman, kotak makan siang yang terbuang, semuanya campur jadi satu. Inginku menghampiri bocah itu, tapi bel berbunyi dengan begitu lantangnya, memekakkan gendang telingaku.
“Hey Bro, dari mana saja? Kucari kau kemana-mana, disini rupanya. Masih banyak bagian-bagian mesin yang belum kujelaskan padamu, Ayo!” Andri muncul dari belakang, sambil menarik tanganku kuat-kuat. Sial! Hidupku terusik kembali. Kotak makan siangku jatuh dari atas bangku, tumpah mengenai seekor kucing, yang sejak tadi menunggu di bawah bangku. Ia terlihat kegirangan, sambil berputar-putar mengelilingi roti tersebut seperti komedi putar.
***
Pertanda hari mulai senja nampak muncul. Perlahan, langit mengubah warnanya, sedikit demi sedikit menjadi jingga. Sekawanan burung-burung terbang rendah, menikmati indahnya hawa senja yang hangat, sambil bermigrasi ke tempat lain, ke tempat yang lebih menjanjikan. Aku duduk, dan kembali termenung di atas bangku. Si kucing masih berada di bawah bangku, namun kini ia tertidur. Telepon genggam ku berdering, bergetar. Aku segera bangkit.
Sebuah Alphard silver metalik menungguku di depan gerbang sekolah. Pak Jaka, supirku selalu datang lima menit lebih awal dari ekspetasiku.
“Selamat sore, Mas Angga. Ayo masuk, udah dicariin sama Nyonya” ujar Pak Jaka sambil tersenyum. Aku masuk dengan langkah gontai, lelah dan penat luar biasa pikiranku. Melihat wajahku yang begitu kusut, Pak Jaka langsung memutar music jazz dari music player mobilku. Beliau selalu tahu apa yang ku mau.
Setetes air lambat laun jatuh, lalu dua tetes, tiga tetes, dan seterusnya. Dari balik jendela mobil, kulihat orang-orang mondar-mandir, mencari tempat teduh. Pekerja kantoran, buruh pabrik, penjual sayur, pedagang kaki lima, semua sibuk mencari tempat berlindung. Mobilku sampai di perempatan jalan. Zebra cross penuh sesak oleh orang-orang, berbondong-bondong untuk segera sampai ke seberang, lalu berteduh di dalam rumahnya masing-masing. Kutatapi semua wajah-wajah yang menyeberangi jalan itu, semua raut mukanya tampak sama ; khawatir, cemas, bête, tak nyaman karena bajunya basah kuyup semua. Kecuali seorang bocah, bocah pemulung yang kulihat saat istirahat tadi. Wajahnya tersenyum, mengantarkan ibu-ibu yang membawa banyak kantong plastik, memayungi seorang wanita paruh baya. Tak peduli sebasah apapun bajunya. Sampai di seberang, wanita itu memberikan uang recehan kepada si bocah. Senyum tersungging di bibirnya, lalu kembali ke seberang jalan, menghitung-hitung uang yang diperolehnya hari ini. Perlahan, aku tertarik dengannya. Setiap gerak-geriknya, setiap nasib yang Tuhan gariskan padanya. Dunia menjadi begitu mengejutkan, begitu berwarna, dan penuh fantasi baginya. Sedangkan aku, dunia begitu membosankan, stagnan, dan non-progresif. Lampu kini berwarna hijau, perlahan bocah itu mulai mengecil dari pandanganku, namun bayangannya takkan pernah pudar dari pikiranku.    
Mama telah menungguku di ambang pintu, sambil tersenyum padaku.
“Ayah sudah pulang, Ma?”
“Masih di luar kota sayang. Mungkin tiga hari lagi baru akan pulang”
Semakin hari, aku semakin kehilangan figur Ayah. Hanya Mama dan Pak Jaka yang selalu ada di sampingku. Aku bergegas masuk ke kamar, kubuka lebar-lebar pintu jendela kamarku. Kemilau senja menyemburat, masuk ke kamarku, masuk ke dalam relung hatiku. Menggantikan awan yang sedari tadi mendung, tak menggairahkan. Entahlah, hatiku berbicara, bahwa aku harus menemui bocah kumal itu. Bocah pemulung nan misterius, esok hari. Dan aku takkan membiarkan sesuatu hal menghalangiku, untuk bertemu dengannya.
***
Bel berdering keras, sedikit parau. Buru-buru aku keluar dari kelas, menghindar dari siapapun yang akan menghalangiku menuju halaman belakang sekolah. Entah mengapa, hatiku begitu sumringah, mengetahui bahwa sebentar lagi aku akan menemui sosok itu, sosok kumal nan misterius.
Lima menit pertama, bocah itu belum muncul juga. Sudah sepertiga waktu istirahat terlewatkan. “Mungkin sebentar lagi muncul” pikir hatiku, masih tenang. Lima menit kemudian, bocah itu masih belum juga muncul. Kulirik jam tanganku berkali-kali, namun bocah itu masih belum nampak batang hidungnya. Kucing yang tempo hari kutemukan saat istirahat, kini mulai tertidur pulas di bawah bangku, karena makanan dari atasn tak kunjung tumpah. Kulihat kembali arlojiku, 09:57 AM. Bocah itu masih belum juga muncul dari balik pagar sekolah. Waktu istirahat tinggal tersisa tiga menit lagi, dan aku masih bertopang dagu,  menunggu bocah misterius itu datang.
Bel kembali berdering, membawa berita tak menyenangkan bagiku. Karena, bocah itu belum juga muncul. “Ayolah, bocah, kau membuatku semakin kesal” ujarku setengah berteriak. Beruntung, tak ada orang di sekitarku. Kulihat lagi arlojiku untuk kesekian kalinya, 10:05 AM, murid-murid yang lain kini sudah masuk kelas. Ya Tuhan, kenapa bocah itu belum nampak juga? Ataukah, ia takkan datang hari ini? Pikiran-pikiran itu semakin menjepit otakku. Pikiranku sudah mulai tak jernih. Cepat-cepat aku berlari ke ujung halaman, menuju pagar sekolah berwarna hitam tua itu. Kilau yang terpantul dari cat hitam pagar itu, tak menyurutkan tekadku : melompati pagar sekolah! Kuambil langkah jauh-jauh, seperti langkah cheetah yang berlari mengejar mangsanya. Kulihat Pak Satpam sedang menerima telepon di posnya. Ini kesempatan emasku! Lariku semakin kencang, dadaku kembang kempis mengatur napas. Kuloncati pagar yang tingginya hampir dua meter itu. Dua detik kemudian, badanku terjerembap, mencium panasnya trotoar.
“Aaaargghhh!!” teriakku parau. Aku cepat-cepat menutup mulutku. Firasatku, pak satpam pasti akan melihat ke luar pagar, mengecek apa yang terjadi. Cepat-cepat aku merangkak ke balik tong sampah. Sambil menutup hidung, ku coba menata kembali napasku yang berantakan.
“Siapa itu?!” tanya pak satpam lugas, dan sedikit berteriak. Terdengar decit-decit sepatu pak satpam dari kejauhan, dan kini semakin mendekat. Pak Satpam hendak menghampiri! Kepalaku sedikit mendongak dari balik tong sampah, menengok Pak Satpam, yang tiba-tiba berhenti lima meter di belakangku, sambil memegangi perutnya.
“Aduh, perutku mules sekali. Kenapa ya? Aduuuuuhh…” pak satpam lari terbirit-birit, masuk kembali ke gerbang sekolah. Yeah, aku cepat-cepat bangkit, tapi tanganku kini bersimbah darah. Kuraba-raba mulutku. Sial, gigi seriku tunggal! Cepat-cepat ku berlari, menjauh dari sekolah, sambil memegangi mulutku yang berselimut darah. Sekilas, wajahku melihat sepotong gigi seri tergeletak, persis satu meter dari tempat badanku mendarat tadi. Tak ada waktu! Aku harus mencari bocah itu, dan menemukannya, sebelum petang menjelang.
Di perempatan jalan, di sekitar lampu lalu lintas, di rumah makan khas padang, di toko plastik, di depan Kantor Wali Kota, di mana-mana, bocah itu tak terlihat. Matahari kini persis berada di atas kepala Ikalku, tapi bocah itu belum nampak pula. Titik-titik keringat semakin nampak di setiap sudut wajahku, aku berteduh di sebuah pohon. Persis di sampingnya sebuah warung kecil berdiri.
“Pak, air mineralnya satu” ucapku mantap. Kuteguk air botol itu setengahnya.
Kusandarkan badan, dan memandang sekilas yang ada di sekitarku. Di seberang jalan terlihat sebuah Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Sebuah lapangan kecil nan tandus, terletak persis di depannya. Beberapa anak kecil bermain bola, tanpa alas kaki. Mereka asyik bermain, tak peduli nasib yang mereka alami, tak peduli tentang sekitarnya. Salah seorang dari mereka menggiring bola ke depan gawang, lalu melepaskan curved shot ke tepi kanan gawang, yang dibuat dari tumpukan sandal-sandal bekas. Tendangannya tak mampu dihalau penjaga gawang. Anak itu berteriak kegirangan, melakukan selebrasi dengan membuka bajunya, bersorak riang bersama teman satu timnya. Kutatapi tajam-tajam bocah itu. Itu dia, si bocah misterius! Aku segera bangkit, lalu menyeberangi jalan, mendekati bocah misterius itu. Tapi, entah kenapa tiba-tiba mulutku beku, badanku kaku. Aku terdiam beberapa meter dari bocah-bocah itu. Beberapa dari mereka menatapku, lalu seketika mereka berhamburan, kocar-kacir tak jelas arahnya.
“Tunggu!” teriakku. Mendengar teriakanku, lari mereka semakin kencang.
“Tunggu, kamu yang mencetak gol, kesini sebentar!” napasku putus-putus, berusaha mengejar mereka. Si bocah misterius itu mengampiri, dengan wajahnya yang penasaran, juga sedikit ketakutan.
“Siapa namamu?”
“Bagas, Kak. Ada apa, kak?”
“Boleh saya jadi teman kamu?” tanyaku sedikit ragu-ragu, sambil mengajaknya berjabat tangan.
Anak itu terdiam, melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Buru-buru ia pergi meninggalkanku, bersama teman-temannya yang lain.
Aku diam seribu bahasa.
***
            Sebuah tamparan keras nan tajam, mendarat di pipi kiriku.
            “Bukannya sekolah, malah mabal di dalam jam pelajaran! Memalukan!” tatapan matanya begitu nanar melihatku, wajahnya pun memerah. Tak ada yang bisa kulakukan, selain menundukkan pandangan.
            “Ayah! Jangan kasar dong sama Angga. Kita bisa selesaikan ini baik-baik” ucap Ibu, nadanya yang sedari tadi tinggi, kini mulai menurun, mencoba mencairkan suasana.
            “Udah pusing mikirin kerjaan, nyari tempat buat mall Ayah yang baru, ditambah lagi anak ini kabur-kabur segala. Udah ah, Ayah pusing! Mama gak bisa jaga amanah dari Ayah!” Ayah meninggalkan kami berdua. Aku cepat-cepat melangkah ke kamar, Mama membuntutiku, lalu menutup pintu.
            “Kamu dari mana sih, Angga? Kenapa tiba-tiba kabur dari sekolah?” tanya Mama lembut, sambil memegangi pipi kiriku yang memerah.
            Kuceritakan semua yang terjadi.
            “Tapi itu bukan cara yang benar, Angga. Ya udah, mandi dulu sana, udah maghrib”
            Aku melangkah perlahan, sambil menunduk, menuju kamar mandi.
            Selepas mandi, kubuka jendela kamarku. Angin malam kali ini menembus lapisan kulitku, menusuk tulangku. Kupandang langit, penuh dengan bintang-bintang. Kulihat rembulan, nyaris purnama. Kutatap langit lama-lama, menembus bulan, menembus bintang, karena di benakku hanya ada Bagas, si bocah pemulung nan misterius itu. Apakah malam ini ia bisa tidur nyenyak, di gubuk yang berdiri dari potongan seng itu? Apa ia bisa tidur pulas, di antara sampah-sampah, di kepung bau busuk itu? Aku ingin mengunjunginya kembali, menanyakan segala sesuatu tentangnya. Kulihat kembali kalender, mencari-cari hari libur, agar aku bisa kembali ke TPS itu. Hari ini 20 Maret, dan tanggal merah yaitu 21 Maret. Berarti besok libur! Ini dia, kesempatan yang kucari-cari. Kupikirkan kembali, apa saja yang akan kulakukan besok. Entahlah, yang terlintas pertama dipikiranku adalah mengajari Bagas dan teman-temannya untuk bisa menulis dan membaca. Cepat-cepat ku catat di notebook. Lalu membawa berbagai macam makanan, buah-buahan, dan beberapa alat tulis. Terbayang, wajah mereka sumringah, karena aku membawa banyak oleh-oleh buat mereka. Tak sabar, aku ingin cepat-cepat esok hari segera tiba.
            Di sujud terakhir shalatku malam ini, aku berdoa, agar Bagas dan teman-temannya diberi  perlindungan dan keselamatan. Setidaknya untuk malam ini saja, hingga esok hari aku datang ke TPS itu.
***
            “Mas Angga, semua makanan, buah-buahan, dan alat tulis ini buat siapa sih?” tanya Pak Jaka kepadaku, dari balik kantong plastik yang dibawanya.
            “Buat temen-temen saya di TPS”
            “TPS?! Maksudnya, Tempat Pembuangan Sementara?”
Aku mengangguk, Pak Jaka terlihat kaget bukan main.
Sebagai anak pemilik beberapa saham penting di Indonesia, seharusnya aku bermain bersama anak-anak sebayaku di rumah mereka yang megah, real estate pula. Tapi entahlah, aku tak suka bermain dengan anak-anak seperti itu.
“ Emang ada temen-temen Mas Angga yang tinggal di TPS?”
            “Iya, Pak. Udah deh, pokoknya Pak Jaka harus bantuin bawa barang-barang ini ke TPS. Tapi jangan bilang ke Ayah ya! Bilang aja, kalau saya pergi ke rumahnya Andri. Oke, Pak?” tanyaku.
            “Eh, iya deh mas. Apapun lah buat Mas Angga mah. Hehe” ucapnya, dengan logat Sunda yang begitu kental.
            Aku dan Pak Jaka tiba di TPS. Seperti kemarin, hari ini Bagas dan kawan-kawannya sedang bermain bola. Aku cepat-cepat menghampiri mereka. Mengetahui aku membawa banyak barang-barang, Bagas menginstruksikan teman-temannya untuk membantu membawakan barang-barang tersebut.
            “Kak, semua barang ini untuk siapa?” tanya seorang bocah, yang belum kuketahui namanya.
            “Ini buat kalian semua!” tukasku mantap. Mereka bersorak sorai gembira, termasuk Bagas.
            Kami masuk ke sebuah gubuk, terbuat dari tumpukan-tumpukan seng. Inilah gubuk Bagas. Kuihat sekelilingnya, sangat menyedihkan. Ya, walaupun gubuk ini telah dialiri listrik, tetap saja menyedihkan. Tak ada kasur, atau alas apapun. Hanya tanah, ya, hanya tanah. Kulihat atapnya, mulai mengarat. Dan sepertinya takkan lama lagi bakal roboh. Bau busuk menyengat dimana-mana. Aku sedari tadi hanya bisa menahan napas, sekuat tenaga. Kutatapi mata mereka masing-masing ; menyedihkan. Tapi, jauh di dalam bola mata mereka, jauh di dalam retina mata mereka, jauh di dalam hati mereka, aku menemukan secercah harapan.           
“Ayo, semuanya mendekat ke sebelah sini” ujarku sambil duduk bersandar di pinggir meja tua reyot, sambil mengeluarkan sebuah papan tulis mini, dan beberapa spidol.
            Mereka mendekat, sangat antusias.
***
            Kutatapi mereka satu-satu, sambil melihat hasil pekerjaan mereka. Kulihat Sinta, gadis berusia sepuluh tahun, menggambar sebuah rumah di atas tumpukan sampah-sampah. Rumah itu tak besar, tak juga gemerlap. Hanya berdiri atas beberapa tumpukan kayu, juga beratapkan dahan kering. Desain rumah yang sangat ramah lingkungan.
            “Aku sayang bumi, kak Angga” ucapnya pelan. Aku mengangguk, sambil mengelus-elus kepalanya.
            Bustomi, bocah berusia delapan tahun, tak mau kalah dari yang lainnya. Ia menggambar sebuah keramaian kota, yang di dalamnya orang-orang bepergian menggunakan sepeda. Tak ada yang bermotor, satupun.
            Aku tersenyum kepadanya, bangga bukan main.
            Kulihat, Bagas di ujung gubuk, khusyuk menekuni lukisannya. Sebuah pemandangan, dengan sinar matahari yang cerah, dihiasi gumpalan awan yang berseri-seri. Pepohonan rindang berjajar rapi di sepanjang jalan dan pemukiman warga. Sekawanan burung tak luput dari gambarnya, bermigrasi antar tempat, antar wilayah. Sungai mengalir jernih di belakang pemukiman warga.
            “Kapan semua itu terjadi, Kak?”  tanya Bagas.
            “Entahlah, tapi pasti suatu saat”
            Aku duduk kembali di ambang pintu. Pikiranku melayang. Dua bulan liburanku kali ini aku berbakti, mencoba memberikan secuil nikmatnya pendidikan. Kini, mereka sudah bisa berhitung, menulis alphabet, melukis, bercerita, menulis puisi, juga mengarang. Tapi tak cukup itu, karena aku tak mengajari mereka sendirian. Bagas mengajari mereka bagaimana memilah-milah sampah, lalu mendaur ulang, lalu mengolahnya kembali, menjadi berbagai macam bentuk topi, tas, hiasan dinding, rompi, dan lainnya. Bagas telah mengajari kami semua, bagaimana seharusnya kami memperlakukan bumi yang kami pijak ini. Buat mereka, mungkin aku cukup berjasa. Tapi, Bagas lebih dari itu. Bagas adalah pemimpin kami semua. Kini, dari mereka tak ada lagi yang membuang sampah ke kali di seberang jalan. Tak ada lagi dari mereka yang berani menaiki angkot, atau bus hanya sekedar untuk mengemis, sambil menjual suara parau mereka. Kini, mereka memainkan ukulele dari pintu ke pintu, tak lagi antar angkot. Mereka sadar, dari asap-asap angkot itulah, dunia semakin keriput, dunia semakin mendekati ajalnya. Berkat Bagas pula, kini aku menjadi lebih sadar. Tak ada lagi Pak Jaka yang selalu mengantarku dengan Alphard silvernya. Kini ia banyak menganggur. Meskipun aku merasa bersalah, tapi Pak Jaka mendukung sikapku.
“Bagus Mas, naik mobil itu banyak asapnya. Nggak baik buat kesehatan” ucapnya pasrah, tapi senyum tersimpul dari wajahnya.
 Bagiku, bukan hanya Bagas, tapi mereka semua adalah The Green Professors.
            Hujan mulai mendera, setetes demi setetes turun, menimpa gubuk seng ini. Bau tanah campur sampah mulai semerbak. Cepat-cepat ku ambil minyak kayu putih, agar bau tak terlalu menyengat menusuk hidungku. Bagas mendekatiku, dengan wajah sedikit muram
            “Sebenarnya, hidup kami di sini mulai terancam, kak”
            “Terancam?”
            “Kami dengar, seorang kaya raya akan membeli tanah TPS ini, lalu mengubahnya menjadi mall”
            Aku tersentak
            “Apa? Lalu bagaimana sekarang?”
            “Entahlah, akhir-akhir ini, semakin banyak orang-orang yang melihat-lihat ke sini. Kami harus bagaimana, kak?”
            “Kalian bersabar dan berdo’a saja, Tuhan pasti memberi jalan terbaik” ucapku sekenanya. Sebenarnya aku juga sangat panik, takut mereka semua tak punya tempat tinggal. Kucoba tutupi kegalauanku dengan berucap seperti itu.
“Simpan ini, Kak. Semoga kakak selalu mengingatnya” ucap Bagas pelan, sambil menyerahkan lukisannya kepadaku. Aku tak bergeming, meskipun seribu tanya menyerbu.
 Aneh.
Firasatku berkata, bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Apakah menimpaku, atau menimpa Bagas dan teman-temannya, entahlah. Aku hanya berdoa, agar semua orang yang kusayangi, selalu berada dalam lingkupan kasih sayang dan perlindungan-Nya.
***
            “Kerjaannya keluyuran saja! Pulang malam begini! Liburan bukannya bantuin mama, malah pergi-pergi gak jelas!” bentak Ayah, sambil menyeretku ke kamar. Dengan cepat, Ayah mengunci pintu rapat-rapat. Percuma berteriak, menggedor-gedor pintu, sampai pita suaraku robek, Ayah takkan menghiraukan. Aku terduduk lesu di belakang pintu.
            “Kamu bagaimana sih Ma? Nggak bisa jaga Angga baik-baik!”
            “Sudahlah, lebih baik kita persiapkan sebuah pesta” ucap Ayah mantap.
            “Untuk apa, Pa?”
            “Grand Launching Mall milik perusahaan Papa akan segera dilaksanakan!”
            Aku tertegun. Secara refleks aku berteriak sekeras-kerasnya, meminta Ayah untuk membuka pintu.
            Tak ada yang menjawab.
***
            Lima belas hari terisolir di dalam ruangan lima kali enam meter ini. Tanpa Bagas dan kawan-kawan di sampingku. Selama lima belas hari pula aku tak mendengar kabar dari mereka. Sejak kejadian tempo hari, ketika aku pulang larut malam, Ayah seketika mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Beberapa security, sengaja Ayah rekrut tentunya agar aku tak bisa kabur lewat jendela. Mereka siap siaga, bergantian giliran sepanjang malam dan siang.
 Pagi ini, kudengar Ayah sarapan bersama Mama, dari balik pintu.
            “Papa akan pergi ke Singapura. Hanya dua hari saja. Mama jaga Angga baik-baik. Jangan sampai keluyuran malam lagi!”
            Tak lama kemudian, dari balik jendela kamarku, terlihat BMW hitam meluncur cepat. Aku cepat-cepat membuka jendela, lalu mencari perkakas apapun.
“Angga! Mau kemana?” tiba-tiba Mama berada di ambang pintu, sambil membawakanku sarapan.
“Angga harus ke TPS itu Ma. Angga harus tahu apa yang terjadi!”
Mama sedikit terdiam, terlihat sedikit gugup.
“Kenapa Ma? Ada apa?”
Mama tak menjawab.
Tanpa pikir panjang, Aku keluar dari kamar, Mama tak menghalangiku. Ku ambil sepeda, kukayuh sepedaku kuat-kuat, menerjang aspal. Beribu firasat buruk menerpa pikiranku. Di tengah perjalanan, aku tak bisa berpikir jernih, sama sekali. Lampu merah kuterobos.
            Aku sampai di sebuah pohon, seperti tempo hari dulu. Namun, warung yang berada di sampingnya, kini rata dengan tanah. Kulihat sekeliling, ratusan pekerja kasar sedang bekerja. Ada yang mengecor, membangun pondasi, ada juga yang mengaduk semen. Semuanya tumpah ruah. Gundukan sampah yang tinggi, kini telah rata dengan tanah. Beberapa gubuk seng kecil, kini tergantikan dengan beberapa alat-alat berat nan besar. Mereka tak ada dimana-mana! Ternyata dugaanku selama ini benar. Seorang saudagar kaya yang Bagas ceritakan adalah Ayahku sendiri! Kubuka kembali catatan kecilku, terselip selembar kertas buram. Kulihat isinya, sebuah lanskap pedesaan hijau, dengan sinar matahari yang cerah, dihiasi gumpalan awan yang berseri-seri. Pepohonan rindang berjajar rapi di sepanjang jalan dan pemukiman warga. Sekawanan burung tak luput dari gambarnya, bermigrasi antar tempat, antar wilayah. Sungai mengalir jernih di belakang pemukiman warga. Sekelompok orang bercanda riang, berkumpul di depan rumah masing-masing. Di pojok kanan bawah kertas tertulis
            “Sayangilah Bumi, Kak.”
            Terbayang wajah Bagas dan teman-temannya yang lusuh, kini entah di mana.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar