Flaming Soccer ball
Subscribe:

Labels

Esai dan Artikel


PERAN TEKNOLOGI DALAM PEMBERDAYAAN OBAT HERBAL DAN KESEHATAN NASIONAL
oleh : Fahmi Syakir
Acap kali kita mendengar berita tentang berbagai macam musibah, tragedi, serta fenomena yang menerpa bumi pertiwi. Mulai dari bencana alam, kejahatan sosial, hingga bermacam-macam jenis penyakit yang menjadi pandemi di beberapa wilayah. Tak heran, bila populasi masyarakat Indonesia yang mengalami ganggguan kesehatan semakin memprihatinkan.
Jika kita selidiki kembali, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan, disebabkan oleh perbandingan jumlah praktisi kesehatan dan populasi penduduk yang tidak seimbang. Badan Pusat Statistik (2009) menyatakan, jumlah lulusan bidang kesehatan (kedokteran, farmasi, dll.) di Indonesia mencapai 125.000 orang. Sedangkan World Health Organization (WHO) menyebutkan, perbandingan jumlah praktisi kesehatan dengan populasi penduduk yang ideal sekitar 0.1% , atau 1:10.000 orang. Maka, jumlah praktisi kesehatan di Indonesia seharusnya adalah 250.000 orang (dari 250 juta penduduk Indonesia). Selain itu, ditambah pula pengetahuan masyarakat umum yang masih minim tentang obat, terutama pengetahuan tentang obat herbal. Masyarakat banyak yang lebih memilih obat non-herbal, karena lebih praktis dan reaksi yang dihasilkan lebih cepat dibandingkan obat herbal. Maka, program studi (prodi) Farmasi berperan penting, dalam mempromosikan kembali obat herbal kepada masyarakat luas.
Sebagai program studi, Farmasi memiliki prospek kerja yang lebih luas. Pertama, potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia sangat besar. Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat (180 spesies telah dimanfaatkan industri tradisional). Dengan melihat jumlah tanaman di Indonesia, dan baru 180 tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional, maka peluang bagi profesi kefarmasian, untuk meningkatkan penyediaan obat herbal, dalam upaya pembangunan kesehatan masih terbuka lebar. Kedua, mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat akan penggunaan obat herbal. WHO menyatakan, hingga 65% dari penduduk negara maju, dan 80 % dari penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal. Faktor pendorong terjadinya fenomena tersebut, selain usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit-penyakit tertentu, juga karena semakin luasnya informasi mengenai obat herbal. Minimnya efek samping yang dihasilkan, juga menjadi alasan masyarakat mempercayai obat-obatan herbal. Ketiga, Jumlah Industri herbal yang bergerak di bidang Farmasi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (2002) menyatakan, terdapat 1.012 industri obat tradisional yang memiliki izin usaha, terdiri dari 105 industri berskala besar dan 907 berskala kecil.
                 Dalam tesisnya yang berjudul Tren dan Paradigma Dunia Farmasi : Industri-Klinik-Teknologi Kesehatan, Elin Yulinah Sukandar (2006) menyatakan: “Terjadi transformasi pemahaman dan persepsi masyarakat tentang kesehatan. Terbukti dengan semakin tingginya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan memuaskan.” Maka, perkembangan Teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) mempunyai korelasi yang sangat erat dengan kemajuan Farmasi, terutama obat-obatan tradisional. Dengan berkembangnya TIK, akan sangat berpengaruh terhadap penemuan dan inovasi baru dalam melahirkan metode-metode baru di bidang sains laboratorium klinik. Secara otomatis, proses standarisasi obat tradisional pun semakin tinggi, dan mutu dari obat herbal itu pun akan semakin terjamin, hingga sampai ke tangan konsumen. Akhirnya, obat herbal pun akan semakin diterima oleh masyarakat luas.
                 Oleh karenanya, perkembangan Teknologi dan Informasi, seharusnya menjadi tonggak awal revolusi farmasi dan bidang kesehatan di Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan kefarmasian, pengembangan dan inovasi medical devices, peningkatan kualitas dan kuantitas para farmasis di Indonesia, hingga keterjaminan mutu obat herbal yang utuh, merupakan substansi yang perlu diperbaiki. Maka, prodi Farmasi sangat berperan penting dalam pemberdayaan obat herbal di masyarakat, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang sehat, cerdas, dan dinamis.
 _________________________________________________________________
Mengenali Karakter Belajar Siswa, Langkah Awal Guru Revolusioner
(oleh : Fahmi Syakir)

 “Guru adalah seorang pahlawan, tanpa tanda jasa”. Seringkali kita dengar dan lihat kalimat tersebut di berbagai media massa. Baik itu media cetak, elektronik, dan lain-lain. Memang, guru merupakan sosok yang beperan penting, dalam proses pembangunan suatu bangsa. Dari guru lah, lahir benih-benih insan berkualitas, yang nantinya diharapkan menjadi tulang punggung bangsa. Tapi nyatanya, kalimat itu tak sepenuhnya benar. Masih banyak guru yang belum sadar tentang perbedaan karakter belajar dari setiap siswanya. Seolah-olah, guru menyama-ratakan potensi dan kemampuan siswanya. Bila seorang guru tak mampu memahami karakter belajar masing-masing muridnya, secara tak langsung guru tersebut telah menghilangkan gairah belajar siswa.
            Setiap manusia dilahirkan secara berbeda-beda, tentunya memiliki karakter / gaya belajar yang berbeda-beda. Flemming dan Mills (1992) membaginya ke dalam empat kategori : Visual (ketajaman penglihatan.), Auditory (pendengaran), dan Kinesthetic (sentuhan / gerak). Bagi murid yang berkarakter Visual, hanya dengan melihat symbol, skema, diagram atau gambar-gambar, serta teks-teks yang berkatian dengan pelajaran, cukup bagi mereka untuk memahami pelajaran. Tapi tidak bagi murid lainnya, yang mempunyai karakter belajar Auditori dan Kinestetik.
            Seringkali kita temukan, seorang guru yang gemar mengajarkan siswanya hanya dengan menulis materi di papan tulis. Bagaimana bisa efektif? Bagaimana jika materi tersebut lebih bersifat aplikatif, dan berperan penting dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimana nasib anak-anak yang lebih dominan auditori dan kinestetik? Tentunya mereka akan jenuh, dan semakin malas untuk belajar. Bila begitu, proses belajar-mengajar pun menjadi tidak optimal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya siswa yang masih belum paham tentang konsep dasar, pengerjaan soal, maupun peranan suatu materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
            Anggapan yang muncul di masyarakat, bahwa siswa malas belajar semata-mata hanya karena tak mempunyai keinginan yang kuat, serta tabiat yang memang susah untuk diubah. Di balik semua itu, guru dan pihak sekolah pun ikut bertanggung jawab, karena menyajikan materi yang tidak variatif, dan cenderung tidak memacu siswa untuk lebih berpikir kritis. Dengan begitu, guru seolah-olah hanya berusaha untuk menggugurkan kewajibannya saja menjadi seorang guru, tanpa ada usaha untuk membuat setiap siswanya paham dan mengerti atas apa yang diajarkannya.  
            Bila kita renungkan kembali secara mendalam tentang fungsi guru dan sekolah, seharusnya guru dan sekolah harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman terhadap siswanya. Guru sebagai orangtua kedua mereka, yang seharusnya mampu membimbing dan menuntun murid-muridnya, agar mampu memahami setiap pelajaran. Namun, kenyataannya banyak siswa yang tak betah di sekolah, dan merasa sangat bahagia, ketika salah satu guru mata pelajaran tidak bisa masuk kelas. Ditambah lagi, sarana dan prasarana yang belum memadai, menambah keadaan belajar di sekolah menjadi lebih tidak kondusif lagi. Buktinya, di SDN 36 Delia, masih ditemukan satu bangku sekolah yang diisi oleh lima orang siswa sekolah dasar (Ujungpandang Ekspres, 19 April 2012). Bayangkan saja, satu bangku diduduki oleh lima murid SD? Bagaimana bisa belajar dengan nyaman, sedangkan untuk duduk saja begitu sangat susah?
            Dalam hal ini, seharusnya pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan Nasional, harus mampu bekerja optimal dalam upaya meningkatkan kualitas guru dan staf pengajar, serta peningkatan mutu bahan ajar yang ada di setiap daerah. Baik itu dengan mengadakan berbagai macam penyuluhan untuk guru-guru, terkait dengan jenis-jenis gaya belajar siswa, ataupun dengan bentuk penyediaan sarana prasarana yang memadai. Bagaimana bisa, seorang guru mengajarkan berbagai macam materi yang bersifat aplikatif, sedangkan sarana dan prasarananya saja masih sangat minim?
            Maka dari itu, janganlah heran, bila hingga saat ini Indonesia masih sangat tertinggal jauh dibandingkan negara lain, khususnya di bidang pendidikan. Jangankan negara-negara maju di Eropa sana, bila dibandingkan dengan negara anggota ASEAN saja, kita masih belum menjadi nomor satu. Jangan harap, Indonesia bisa menjadi referensi utama di bidang pendidikan, bila guru-guru yang ada di Indonesia masih belum paham konsep karakter belajar siswa, terutama dalam proses penerapannya di dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar